Drs Sukiman, Sekretaris BPH UMY, Susun Buku Biografi

Drs Sukiman, Sekretaris BPH UMY, Susun Buku Biografi

 

Penulisan Buku Biografi semakin diminati berbagai kalangan. Drs.Sukiman, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memulai untuk menyusun kisah hidupnya. Untuk mewujudkan buku biografinya, penulisbukubiografi.com dipercaya untuk menuliskannya.

 

Drs Sukiman, Sekretaris BPH UMY

Drs Sukiman, Sekretaris BPH UMY

Penulisan Buku Biografi Sukiman akan ditulis langsung oleh Dr.Subhan Afifi, M.Si sebagai founder penulisbukubiografi.com. “Buku biografi InsyaAllah akan menjadi referensi dan inspirasi yang menarik tentang perjuangan seorang guru sekaligus aktivis Muhammadiyah,” ujar Subhan Afifi sesuai melakukan wawancara perdana dengan Sukiman di kediamannya di daerah Jalan Magelang Yogyakarta, Minggu, 24 April 2016.

Proses pengumpulan data hingga penulisan dan penerbitan buku ini diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu 4 bulan. InsyaAllah.

Kajian Umum Ust. Dr. Subhan Afifi, M.Si di Masjid Kampus UGM yang diselenggarakan Oleh SMA N 3 Yogyakarta dalam Acara Padmanaba Islamic Festival

Kajian Umum Ust. Dr. Subhan Afifi, M.Si di Masjid Kampus UGM yang diselenggarakan Oleh SMA N 3 Yogyakarta dalam Acara Padmanaba Islamic Festival

Poster Pak Subhan Maskam -SMU 3

7 M Untuk Anak

Komunikasi esensinya adalah memuaskan semua pihak. Sayangnya, dalam komunikasi ada saja pihak yang merasa puas, sepuas-puasnya, tetapi yang lain tidak terpuaskan, atau bahkan tertekan. Komunikasi orang tua dan anak seringkali menunjukkan kecenderungan ini.
Orang tua dan anak jelas-jelas memiliki dunia sendiri. Dunia anak adalah dunia bermain, berkembang, kreatif, suka meniru, dan lebih jelas lagi, anak-anak bukan “orang dewasa mini”. Orang tua dunianya keras, ingin semua serba teratur, penuh kompetisi, ingin disiplin, ingin anak pintar dan penurut, dan seterusnya. Orang tua dan anak memiliki kerangka berfikir (frame of reference) dan medan pengalaman (field of experience) yang berbeda.
Disinilah persoalannya. Komunikasi tak akan jalan jika tak ada pemahaman. Dalam berkomunikasi, orang tua sering kali mengabaikan perasaan anak. Padahal jika anak merasa tidak nyaman, bisa merusak harga dan kepercayaan dirinya. Jika cara berkomunikasi orang tua masih banyak yang keliru, pesan tidak akan sampai. Anak-anak akan menyerap pesan apapun dengan mudah bila mereka dalam kondisi senang, dan tidak tertekan.
Bagaimana dengan gaya komunikasi keseharian kita dengan para permata hati yang luar biasa itu ? Para orang tua yang tidak bijaksana, semoga kita tidak termasuk di dalamnya, seringkali menerapkan rumus 7M untuk anak ketika berkomunikasi. Apa itu ?
anakMEMERINTAH. Betapa sering, kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir ayah bunda yang mulia melulu berjeniskan kalimat perintah. Hampir tanpa variasi. “Andi, mandi cepat !,” “Nabila, Bajunya pakai yang biru saja, jilbabnya juga yang ini !”, “Ayo..makannya dihabiskan !”, “ Sepatunya taruh di rak sepatu !, koq dibuat berantakan begini !” dan seterusnya. Kalimat-kalimat bernada perintah jika terlalu mendominasi pendengaran anak akan membuat jiwanya kerdil. Kelak jika dewasa, sulit mengharapkannya menjadi penyelesai masalah (problem solver), karena otaknya biasa bekerja di bawah perintah, tidak ada alternatif. Berikanlah kalimat-kalimat yang lebih rendah tekanannya, mengandung alternatif, dan melatih anak untuk mengambil keputusan sendiri. “Ayo..mau mandi jam berapa ?”, “Coba dipilih sendiri dech baju mana yang Nabila suka, pasti cantik..” “Kira-kira kalau makannya nggak dihabiskan, gimana coba…mubazir kan..” kalimat-kalimat seperti ini lebih membangkitkan jiwa daripada melulu perintah.
MENYALAHKAN. “Mama kan udah bilang, kalau main, jangan panjat-panjatan begitu..Jadi jatuh kan..!”, atau “Makanya, kalau pulang sekolah langsung pulang, nggak usah mampir dulu, jadi keserempet sepeda kan…!”. Anak sering kali diposisikan dalam posisi serba salah. Padahal belum tentu mereka yang salah. Kalaupun benar-benar salah tidak selayaknya mereka terus dipojokkan. “Ya sudah, nggak apa-apa, lain kali hati-hati ya…” kalimat ini lebih menentramkan hati anak.
MEMBERI CAP. “Kamu memang selalu mengganggu adikmu!”, “Koq lambat banget sih..Selalu begitu. kapan sih bisa cepat?” . Labelling atau pemberian aneka sebutan negatif pada anak berpengaruh pada jatidirinya kelak. Gantilah kata-kata negatif dengan kata-kata yang lebih positif seperti : “bodoh” dengan “harus banyak belajar”, “tidak bisa” dengan “pasti bisa”, “gak pede” dengan “pede aja lagi…” dan seterusnya.
MENGANCAM. Merasa memiliki otoritas penuh, orang tua seringkali main kuasa dan main ancam. “Awas ya..kalau nggak garap PR uang jajanmu nanti ayah potong,”, “Nanti nggak diajak Mama lho..kalau nonton teve terus…” Sebaiknya kalimat-kalimat bernada ancaman dihindari. Karena anak akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena “takut”. Tentu hal ini tidak mendidik. Bangkitkanlah kesadarannya dengan kalimat-kalimat yang inspiratif dan menggerakkan.
MEMBOHONGI. “Ibu sedang nggak punya uang…” kata seorang Ibu ketika anaknya ingin dibelikan buku, padahal baru saja sang ibu terlihat membeli baju baru. Berbohong, sekecil apapun, tak layak dilakukan orang tua pada anaknya.
MENYINDIR. “Katanya sekolahnya di SD Islam …masa’ shalatnya ditunda-tunda…”,”Katanya
juara kelas, masa’ gitu aja nggak bisa..” Sindiran-sindiran seperti itu lebih bersifat memojokkan dan melemahkan dibanding membangkitkan semangat.
MEMBANDINGKAN. Sengaja atau tidak, orang tua sering mencari pembanding bagi anak, bisa kakak, adik, atau temannya yang dianggap lebih baik. Jika tidak bijak, membanding-bandingkan ini bisa menjatuhkan harga diri anak, dan akan berakibat fatal. “Coba tuh lihat, adikmu, selalu patuh, rajin juga!”. “Waduh, nilai raportmu koq jelek begini sih, banyak main game sih, coba liat si Ahmad itu, belajarnya rajin, pantas aja jadi bintang kelas…”
Jika diteruskan, maka akan muncullah rentetan “M” negatif yang lain, yang lebih banyak lagi. Gaya komunikasi 7M ini bisa berkembang lagi jadi 10 M, 12 M, 14 M dan seterusnya.Padahal sejatinya, anak hanya butuh 2M saja, sebagai wujud penghargaan dan kasih sayang : “Makasih..ya Mas !” atau “Makasih ya..Mbak”. Bukankah di balik sikap dan perilaku anak yang membuat ayah dan bunda mengelus dada, terdapat lebih banyak lagi perbuatan mereka yang menentramkan jiwa. Selayaknya kita berterimakasih pada mereka. Atau, si kecil itu juga memerlukan 2 M yang sederhana :” Maafkan ayah ya Mas..,” atau “Maafkan Ibu ya..Mbak..”. Bukan mereka yang selalu berbuat salah sehingga layak diberi 7M tadi. Tapi justeru, kita, ayah bunda-nya, punya potensi berbuat salah lebih banyak lagi dari mereka. Sungguh, mereka begitu hebat dan berharga….! (***)

Catatan : tulisan ini pernah dimuat di Majalah Fahma, Cerdas di rumah Cerdas di Sekolah, edisi September 2009

Syeikh Dr.Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy : “Pendidik Punya Peran Penting dalam Perubahan”

Syeikh  Dr.Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy : “Pendidik Punya Peran Penting dalam Perubahan”

Pakar pendidikan dari Riyadh, Syeikh Dr.Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy, di bulan April 2014 berkesempatan berkunjung ke beberapa kota di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Selain mengunjungi berbagai lembaga pendidikan, Syeikh Ad-Duwaisy berkesempatan memberikan taushiyah dan berdiskusi dengan para ulama, asatidz, pendidik dan santri.

pendidikanDi Yogyakarta, Syeikh Ad-Duwaisy, memenuhi undangan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI DIY) untuk berdiskusi masalah perjuangan dakwah melalui pendidikan di Lembaga Pendidikan Insani (LPI) Yogyakarta, Kamis (17/4). Setelah sebelumnya memberi kajian umum di masjid Al-Hidayah Purwosari, dan mengunjungi Pesantren Hidayatullah Yogyakarta.

Dalam diskusi MIUMI DIY yang menggunakan bahasa Arab tersebut, Syeikh Dr.Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy, menekankan pentingnya peran para pendidik dalam memperjuangkan perubahan masyarakat menuju lebih baik.

“Para ulama dan pendidik punya peran penting dalam perubahan. Peran untuk membangun manusia agar siap menghadapi masa depan. Perubahan ada yang sifatnya tidak langsung tampak. Tidak terlihat sekarang tetapi memberi dampak yang jelas di masa depan,” jelasnya dihadapan para pengurus MIUMI DIY, dan para aktivisis pendidikan Islam. ” Apa yang kita lakukan sekarang, walau tampak kecil akan memberi pengaruh pada pembentukan kepribadian, sekaligus membentuk masa depan,” tambahnya.
Syeikh Ad-Duwaisy menekankan pentingnya sabar dalam menghadapi kondisi lingkungan yang ada sekaligus mau berbuat sesuatu, sekecil apapun. Karena hal itu berarti ikut memperjuangkan perubahan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, adalah sosok teladan terbaik dalam proses pendidikan. Perjalanan hidup beliau mulai dari masa kecil menggembala kambing, berdagang, ikut berkontribusi dalam pembangunan ka’bah, dan seterusnya, menunjukkan proses pembentukan keperibadian yang tangguh. Proses tarbiyah seringkali tidak segera menunjukkan hasil yang kasat mata. Tetapi bersabar dalam memperjuangkannya terus menerus, beristiqomah di jalanNya, akan memberikan hasil yang diharapkan di masa depan.

Syeikh Ad-Ad-Duwaisy mencontohkan seperti halnya taushiyah yang disampaikan seorang khatib. Kita tidak tahu, dari sekian banyak nasihat yang tersampaikan, bagian mana yang kemudian mengubah jalan hidup jama’ahnya. Tugas seorang pendidik, hanya menyampaikan. Hidayah datang dari Allah Ta’ala.

Menurut Syeikh Ad-Duwaisy, seorang pendidik (murabbi) hendaknya memahami kondisi dan gejala yang ada di sekitar pendidikan yang digelutinya. Mengukur fenomena yang ada secara tepat, dengan dukungan data-data, sekaligus merespon secara tepat fenomena tersebut, menjadi kunci keberhasilan pendidikan. “Melihat kondisi masyarakat yang belum sesuai harapan dengan standar yang cukup tinggi, seringkali melahirkan respon yang kurang realistis,” jelasnya. Menyerah pada realitas juga bukan sikap bijaksana. Bersikap proporsional lebih dianjurkan.

Syeikh Dr.Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy yang juga dikenal sebagai penulis buku-buku pendidikan Islam menekankan pentingnya tarbiyah. Menurutnya tarbiyah yang lemah di masa lalu menghasilkan kondisi lemah di masa kini. Tarbiyah di masa kini sangat menentukan wajah masa depan. “Kita semua harus mengambil peran dalam dakwah dan tarbiyah,” pesannya.

Selain itu para pendidik dianjurkan untuk mengedapankan sikap hikmah dalam tugas dakwahnya. Ada waktunya kapan harus diam, kapan saatnya harus bicara. Kematangan butuh proses untuk diperjuangkan. Sekolah, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya adalah sarana untuk mendidik ummat. “Perkembangan zaman juga menuntut para pendidik memiliki wawasan yang lebih terbuka,” pungkas Syeikh Ad-Duwaisy yang beberapa bukunya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Beberapa judul buku beliau yang telah ditermahkan adalah : “Anakku, Aku Bangga Padamu”, “Perang Melawan Syahwat”, “Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga”, “Biografi Pemuda Sahabat Nabi”.

Dalam kunjungannya ke kampus Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, Syeikh Dr.Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy menekankan tugas besar sebagai Muslim adalah berdakwah di mana saja dan kapan saja. Dalam kesempatan tersebut beliau berpesan agar generasi penerus perjuangan Islam mempelajari ilmu agama dengan baik. Selain itu mau untuk berdakwah di manapun dan kapanpun berada, karena hal itu merupakan implementasi dari iman dan takwa kita kepada Allah. (**Subhan Afifi)

Cara Cepat Dapat Gelar

Seorang kawan di sebuah pulau yang makmur berkirim sms kepada saya. “Ini bisnis,” katanya. Intinya, ada beberapa pejabat di pulau itu ingin melanjutkan S2 dengan model by research, hanya mengerjakan tesis. Tapi beliau-beliau super sibuk, sehingga mencari orang yang mau dan mampu mengerjakannya dengan imbalan rupiah tentu saja. “Kalau Abang mau, nanti saya hubungkan,” tulis sang kawan. Tentu saja kawan itu salah alamat. Kontan saja saya balas sms-nya bertubi-tubi, mengingatkan bahwa itulah kejahatan intelektual sebenarnya. Orang koq ingin dapat gelar dengan cara pintas.

Beberapa waktu kemudian, saya menguji skripsi seorang calon sarjana. Tulisan dari hasil penelitian itu standar-standar saja, seperti kebanyakan skripsi mahasiswa yang pernah saya temui. Hati agak kurang nyaman ketika mahasiswa itu mempresentasikan karyanya di depan kami, saya sebagai penelaah, dan 2 orang dosen pembimbing. Ketika giliran saya menyampaikan pertanyaan, saya bertanya singkat saja : ”Apakah skripsi ini anda buat sendiri ?”. Aneh bin ajaib, si mahasiswa menjawab dengan sangat polos : ”Nggak Pak !”. Hehe. Maka, meluncurlah cerita yang sangat jujur, bahwa ia merasa sudah mentok, pernah gelarpatah hati kemudian cuti kuliah beberapa semester. Sementara orang tua tidak tahu, tapi terus mengultimatum, ”kapan kamu wisuda? Ini semester terakhir lho ! setelah ini nggak ada kiriman lagi !”. Maka, jasa pembuat skripsi yang iklannya ada di koran-koran dengan label konsultasi dan pengolahan data, menjadi pilihan terakhirnya. ”Saya bingung Pak, tapi saya ingin lulus, jadi sarjana, menyenangkan orang tua,” katanya. Dosen pembimbingnya pun kaget campur geram. Mahasiswa ini memang tergolong bermasalah sejak awal. Belasan semester sudah dia habiskan di kampus. Tapi, dosen pembimbingnya tidak menyangka kalau skripsinya dibuatkan orang, karena waktu konsultasi biasa-biasa saja. Singkat cerita, sang mahasiswa dinyatakan tidak lulus, harus mengulang penelitian dari awal, dengan catatan ”benar-benar bikin sendiri!”. ”Sejelek apapun, tapi karya sendiri, itu lebih berharga, daripada menipu diri sendiri dan orang lain,” begitu nasihat dosen pembimbing. Melihat kepala mahasiswa tertunduk lunglai, saya pun mencoba memberi semangat bahwa dia bisa, dia hebat, asal jangan mengerdilkan jiwa. Dalam hati, lagi-lagi saya heran, ada orang ingin dapat gelar dengan cara pintas.

Lantas, apa sebenarnya makna gelar? Bukan hanya gelar akademis, gelar apa saja ! Sekedar hiasan, status sosial, alat pemasaran, punya konsekuensi ekonomis, atau semacam sistem tanda yang menjamin bahwa si pemilik bukan orang main-main. Repotnya bila orang mati-matian mengejar gelar, bagaimanapun caranya, atau malah menggelari diri sendiri, padahal ketika disandingkan dengan nama, gelar itu gak matching gitu loh…Ini yang berat. Pelajaran paling indah telah tertoreh pada sejarah nabi kita yang Agung, Muhammad SAW. Di zaman itu orang juga biasa memberi gelar. Tapi gelar itu diberi karena pembuktian di masyarakat, bukan mengarang sendiri, apalagi membeli. Rasululloh SAW diberi gelar Al-Amin, karena beliau memang sangat bisa dipercaya. Abu Bakar digelari Ash Shiddiq karena selalu benar, membenarkan dan dibenarkan. Umar bin Khattab bergelar Al Faruq karena sosoknya yang tegar, tegas, keras, tak kenal takut. Demikian juga dengan ’Utsman bin Affan dihadiahi gelar Dzun Nurain, si pemalu yang berakhlaq mulia, Khalid bin Walid punya gelar Saifullah, Pedang Allah, dan seterusnya. Semua punya gelar, tapi mereka memperolehnya dengan pembuktian yang mendalam, bukan sekedar simbol tampa makna.

Ngomong-ngomong tentang gelar, saya jadi malu sendiri. Ketika diundang untuk sharing dalam sebuah workshop komunikasi dan pendidikan di Ngawi bulan Juli lalu, saya kaget dan geli ketika di backdrop acara, selain nama acara dan penyelenggara, terpampang besar-besar nama saya dengan embel-embel gelar yang bikin seram. Dr,H,M.Si. Waduh. Saya merasa nggak nyaman dan langsung protes sama ketua panitia. ”Sampeyan kan tahu, saya masih sekolah, belum Dr, gimana nih..?” Lagipula, kalau nggak pake gelar-gelaran seperti itu gimana sih..Apa omongan kita nggak dipercaya orang, kalau nggak pake gelar yang berderet-deret. Jadi beban malah, gelar macam-macam, ilmu nggak ada. ”Tenang aja Pak, itu do’a dari kami, jadi jangan diralat,” katanya santai. Nah..! (**Subhan Afifi)

Kelantan dan Pelajaran tentang Masa Depan

Alhamdulillah, ini kesempatan kedua saya berkunjung ke Kelantan, negeri mungil yang Islami di Semenanjung Malaysia. Fakultas Teknologi Kreatif dan Warisan (FTKW) Universiti Kelantan, mengundang saya dan beberapa kawan untuk menghadiri seminar bersama, sebagai realisasi kerjasama UPN – UMK.

19-22 Mei 2014, saya, Pak Edy Susilo, Pak Basuki, Bu Susilastuti dan Bu Retno Hendaringrum, mewakili Prodi Ilmu Komunikasi melaksanakan lawatan akademik ke 2 Universitas di Malaysia. Universiti Malaya yang menjadi almamater saya ketika mengambil program PhD dan Universiti Malaysia Kelantan. Kerjasama internasional memang menjadi fokus program pengembangan program studi kami.

kelantanDi Universiti Malaya kami berdiskusi intens dengan Ketua Jabatan (Ketua Jurusan) Department of Media Studies, Prof Dr Azizah Hamzah dan para pensyarah (dosen) nya yang energik dan pekerja keras. Pengembangan kerjasama bidang penelitian menjadi fokus diskusi kami.

Di Universiti Kelantan lebih heboh lagi. Prof Dr Abu Hassan Hasbullah, Dekan Fakulti Teknologi Kreatif dan Warisan (FTKW) rupanya sudah menyiapkan penyambutan tim kami sejak di bandara. Sekelompok mahasiswa UMK, layaknya jurnalis profesional sudah menunggu di Bandara lengkap dengan kamera video dan foto nya. Menikmati kuliner Southern Thai Dishes di Padang Serai Kota Bahru, jalan-jalan dan acara inti : International Seminar on Cyberology. Plus diskusi intens tentang program kerjasama 2 universitas. Benar-benar produktif Alhamdulillah.

Ada yang menarik dari perkembangan UMK. Universitas ini berkembang sangat cepat beberapa bulan saya ke sana, apa yang terlihat bergerak sedemikian progresif. Suasana kampus nya, perpustakaan nya dan semangat para pengelola nya. Prof Abu cerita panjang lebar tentang langkah-langkah nya memajukan fakultas yang dipimpinnya. Komitmen, kerja ikhlas-keras-cerdas-tuntas jadi prinsip mereka. Tak perlu banyak wacana tanpa aksi, mereka langsung bergerak. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan tanpa harus berkata nanti.

Saya tertarik dengan Tagline fakultas ini yang tertulis besar-besar di dinding bagian luar kampusnya yang bernuansa kreatif : the past is where we share, the Future is where we belong. Mereka mempersiapkan masa depan dengan serius. Visi yang dikembangkan jauh ke depan, diiringi aksi yang tertata dan eksekusi segera. (#SubhanAfifi)

Berhaji dengan “Enteng”

Berhaji dengan “Enteng”

Para tamu Allah (Dhuyufurrahman), jamaah haji Indonesia mulai memenuhi tanah suci. Sungguh menggentarkan hati melihat para jamaah yang tampak ikhlas melepaskan segalanya untuk memenuhi panggilan Allah.

Di Mekkah, Madinah, ataupun Jeddah, sangat mudah mengenali jamaah Indonesia karena jumlahnya yang paling banyak dibanding jamaah haji dari negara lain. Hanya saja, berdasarkan pengalaman penulis selama 2 bulan bertugas sebagai Tenaga Musim Haji unsur mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri tahun 2007, jamaah haji Indonesia sebagian tampak “berat” dalam berhaji, baik ketika datang dari tanah air, selama berada di tanah suci, maupun saat kembali pulang.

“Berat” ketika datang, dalam arti fisik benar-benar terlihat dari barang bawaan para jamaah. Banyak para jamaah yang merasa tak nyaman jika tak membawa beragam bawaan yang sebenarnya tidak diperlukan atau bahkan dilarang. Para petugas ketika pemberangkatan harus bersusah payah menggeledah tas besar jamaah. Para jamaah masih sulit diajak untuk membawa barang bawaan sekedarnya. Bawaan barang yang berlebihan hanya akan menyulitkan. Ketika pulang, bawaan itu dipastikan akan “beranak-pinak” karena bawaan dari Arab Saudi lebih banyak lagi. Di bandara ketika pemulangan barang, bawaan yang tidak boleh dibawa karena overweight menggunung dan menjadi mubazir. Di tanah suci, aktivitas berbelanja oleh jamaah haji merupakan pemandangan sehari-hari. Jamaah Indonesia dikenal royal dan gemar berbelanja. Berbelanja oleh-oleh untuk sanak keluarga dan sahabat tentu tidak dilarang, tetapi ketika aktivitas itu memberatkan diri sendiri dan orang lain, menjadi layak dipertanyakan.

Saat berada di tanah suci, berbagai ritual haji membutuhkan kekuatan fisik yang prima. Kondisi kesehatan yang sering terganggu selama ibadah, karena beratnya perjalanan dan kondisi alam di Arab Saudi, menjadi ujian tersendiri bagi jama’ah. Banyak jamaah yang dalam kondisi sakit, sudah sangat sepuh, bahkan mengalami stress saat berhaji, menjadi fenomena sisi lain dari “berat”nya haji yang harus dilalui. Apalagi sebagian besar jama’ah haji Indonesia termasuk beresiko tinggi secara fisik. Khusus untuk jama’ah haji dari DIY, menurut data dari Kantor Wilayah Kementrian Agama DIY, mayoritas atau setidaknya 60 persen dari total jamaah haji DIY yang berjumlah 2.455 pada tahun 2013 termasuk dalam kelompok beresiko tinggi. Sebab sebagian besar sudah berusia di atas 50 tahun saat menunaikan ibadah haji tahun ini (krjogja.com,17/9)

Sudah saatnya jamaah haji berangkat, melaksanakan dan pulang berhaji dengan “enteng”. Enteng fisik dan non fisik. Secara fisik, agar benar-benar merasa “enteng”, berangkatlah dengan bawaan seperlunya. Jangan berlebih dan tidak membawa barang-barang yang tidak diperlukan. Termasuk ketika kembali, bawaan yang memberatkan harus dihindari. Petunjuk petugas haji tentang barang-barang bawaan ini selayaknya benar-benar diperhatikan, agar tidak memberatkan diri dan orang lain. Selain itu, latihan fisik dan menjaga kebugaran menjadi resep penting agar selama dalam perjalanan hingga kembali ke tanah air, tetap dalam kondisi sehat. Secara non fisik, terus memperbaharui niat semata-mata hanya mengharap ridho Allah Ta’ala, akan menjadikan setiap langkah dalam perjalanan yang berat itu terasa “enteng”. Menjalankan ibadah haji sesuai dengan petunjuk Rasululloh Shallallahu’Alaihi Wassalam, tanpa kesan berlebih-lebihan dalam beribadah, juga menjadikan haji terasa “enteng”.

Ketika kembali ke tanah air “keentengan” hati para jama’ah haji yang ditunggu-tunggu masyarakat. Haji yang “enteng” dalam ibadah-ibadah khusus seperti shalat berjama’ah dan memakmurkan masjid, berinfak, berzakat, berpuasa dan ibadah khusus lainnya. Termasuk juga “enteng” dalam ibadah sosial yang memberikan efek pada kehidupan kemasyarakatan. Mereka semakin “enteng” untuk menjadi kontibutor solusi dari berbagai persoalan dalam masyarakat. Minat untuk berhaji setiap tahun semakin meningkat, bahkan masa tunggunya semakin lama, bisa mencapai 13 tahun untuk wilayah DIY. Fenomena ini menunjukkan semakin tingginya tingkat religiusitas masyarakat. Tentu saja hal ini harus diikuti dengan semakin meningkatnya dampak positif haji dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Selamat Berhaji ! (**Subhan Afifi)

(Artikel Opini ini dimuat Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 28 September 2013)

Asyiknya Menulis Biografi

Asyiknya Menulis Biografi

Tanpa sengaja, saya mulai jatuh hati dan menekuni penulisan Biografi sejak tahun 2010. Ketika itu, Bapak Ir H.Novizar Zen, Ketua Yayasan Ibrahim Musa yang menaungi Sumatera Thawalib Parabek, meminta saya menulis biografi pendiri pesantren terkenal di Sumatera Barat, Syekh Ibrahim Musa. Setelah buku itu benar-benar terbit dan dilaunching oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, saat peringatan 100 tahun lembaga Islam itu di Bukittinggi, ada rasa dan asa yang membuncah dalam hati. Bahwa, menulis biografi akan saya jadikan sebagai salah satu jalan untuk berkarya. Berbagi inspirasi, untuk kehidupan yang abadi, tentu saja.

penulis.jpg1Buku biografi pertama yang saya tulis itu rupanya menarik perhatian Ibu Dra Nani Arifah, seorang aktivis sosial di Jakarta, yang tak lain isteri Bapak Novizar Zen. Menurutnya perjalanan hidup suami tercintanya juga menarik untuk menjadi inspirasi bagi orang lain. “Minimal untuk anak-anak kami,”katanya. Novizar Zen adalah seorang profesional teknik kimia yang berkecimpung di dunia perminyakan, tetapi juga aktif dalam dunia sosial dan dakwah Islam. Menggerakkan pendidikan Islam berkualitas melalui Yayasan As-Shofa di Pekanbaru dan Madrasah Thawalib Parabek di tanah kelahirannya, Bukittinggi, adalah contoh sumbangsihnya. Menurut Ibu Nani, jejak hidup sosok suaminya itu unik dan menarik, sejak masa kecil di Bukittinggi, kuliah di Teknik Kimia UGM, hingga berkarir di dunia perminyakan, dan berjibaku dalam aktivitas sosial. “Saya ingin memberikan kejutan pada ulang tahunnya yang ke 50 dengan sebuah buku yang berkisah tentang perjalanan hidupnya,” kata Bu Nani suatu ketika di tahun 2010 kepada saya. Diam-diam ia mengumpulkan berbagai bahan tentang suaminya itu sejak kecil, termasuk meminta saya mewawancarai para kolega dan kerabat suaminya itu. Draft buku biografi dalam bentuk sample jadi 2 eksemplar ini akhirnya sampai ke tangan Bapak Novizar Zen. Ia surprise dengan buku itu. Ia pun setuju, ketika isterinya meminta izin untuk menerbitkan buku itu, dengan tujuan berbagi inspirasi kepada siapa saja, secara lebih luas.  Maka terbitlah buku itu, “Novizar Zen : Jejak Cinta Menggapai Kebahagiaan Sejati”, tahun 2011.
Terbitnya buku biografi yang ke-2 itu, kembali membuka jalan bagi saya untuk menulis buku berikutnya. Bapak Novizar Zen berfikir untuk menulis profil dan sejarah sekolah Islam As-Shofa yang diasuhnya. Sekolah Islam As-Shofa, dari tingkat TK,SD, SMP dan SMA, adalah salah satu institusi pendidikan terkemuka di Pekanbaru. Kisah perjalanan As-Shofa dari sebuah ruang pinjaman di lantai 2 sebuah masjid, dan gedung sekolah darurat yang disebut pengelolanya sebagai mirip “kandang kambing” hingga kini menjadi sekolah unggulan dengan kampus megah dan representatif dengan sederet prestasi, ingin ditulis dalam sebuah buku yang enak dibaca dan perlu. Saya pun diminta ke Pekanbaru, mengumpulkan bahan-bahan, mewawancarai banyak tokoh dan narasumber, hingga akhirnya buku itu benar-benar terbit pada bulan Mei 2011. Buku berjudul “As-Shofa : the School for the Future Winners, Kisah Perjalanan Sekolah yang Mendidik dengan Keunggulan untuk Memenangkan Masa Depan”, dilaunching 2 Mei 2011, dalam sebuah acara semarak di Pekanbaru, menandai 20 tahun perjalanan sekolah itu.
Pengalaman menulis 3 buku biografi dan profil lembaga itu semakin memantapkan saya untuk terus belajar tentang penulisan biografi dan InsyaAllah akan menekuninya secara profesional. Sebagai pekerjaan selingan, selain mengajar di program studi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta, saya merasakan asyiknya menulis biografi. Berjumpa dan berbincang dengan beragam tokoh yang menginsipirasi, mengunjungi berbagai tempat yang belum terinjak sebelumnya, menelusuri jejak sejarah, hingga mendapatkan tambahan penghasilan yang lumayan… Hehehe. (Biasanya orang yang memesan atau ingin dituliskan biografinya telah menyediakan dana yang relatif besar, sehingga penulis biografi akan dihargai secara pantas. Biasanya juga dibayar di depan, atau setelah buku selesai. hehe.)

Di tahun 2012, seorang kawan menghubungi saya untuk menuliskan perjalanan hidupnya. “Saya ingin buku itu dibagikan saat saya ujian terbuka Doktor,” begitu kira-kira katanya kepada saya ketika itu. Sukamta, seorang anak desa miskin dari Bayat Klaten, memang dikenal berkemauan keras.  Tidak menyerah pada keadaan, dengan dendam positif pada kemiskinan, membuatnya berjuang keras menembus batas. Dari seorang buruh pabrik konveksi di Jakarta, ia berjuang menggapai gelar dokor di UGM. Alhamdulillah, buku itu benar-benar terbit saat Sukamta dinyatakan lulus sebagai doktor bidang Teknik Mesin di UGM, Senin, 27 Februari 2012. “Sukamta : dari Buruh Pabrik ke Doktor Mesin,” judul buku itu. Dari proses menulis buku dalam waktu yang relatif singkat itu, saya juga belajar banyak dari Pak Kamto, begitu ia akrab dipanggil. Bahwa aneka ragam keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk gagal meraih hak menjadi orang sukses.

Kini, di paruh waktu 2012, beberapa agenda penulisan biografi sudah tercatat dan ingin segera dituntaskan. Dari menulis biografi seorang politisi yang jadi anggota DPD RI, hingga berinisiatif untuk menulis biografi tokoh-tokoh ulama besar dunia Islam. Termasuk mengembangkan “Biograf Media”. Wadah untuk sharing, mengembangkan ilmu penulisan biografi, hingga menerbitkan buku biografi. “Biograf Media”, saya gagas dengan seorang sahabat, Bastian Yunariono, M.Si, dosen di jurusan Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta. Ada yang mau gabung, bareng-bareng belajar nulis biografi? Monggo, kita bisa berbagi makna dan inspirasi ! (**Subhan Afifi)

Syekh Ibrahim Musa : Insipirator Kebangkitan

Syekh Ibrahim Musa : Insipirator Kebangkitan

Selalu ada pelajaran dan insprasi yang membangkitkan jiwa dari para tokoh besar yang pernah lahir di negeri ini. Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek), pendiri Madrasah Sumatera Tawalib Parabek, Bukittinggi, Sumatera Barat, adalah salah satunya. Ulama yang dikenal sebagai ahli hukum Islam, pejuang, sekaligus rujukan bagi ulama lain dan panutan masyarakat Minangkabau ini memang telah wafat pada tahun 1963. Tapi, karya nyata dan pengaruh positifnya masih terasa hingga saat ini. Sumatera Thawalib Parabek mulai dirintis pada tahun 1910, sehingga pada tahun 2010 ini genap berusia 100 tahun. Sepanjang sejarahnya sekolah ini telah melahirkan banyak tokoh-tokoh besar di zamannya, seperti Buya Hamka, H.Adam Malik, Buya Ghafar Ismail, H.M Daud Rasyidi Dt Palimo Kayo, Prof Dr Ibrahim Bukhari, KH Gafar Ismail, Prof Dr Hayati Nizar,MA, Prof Dr Amiur Nuruddin, MA dan masih banyak lagi.

inspirasiSangat beruntung saya berkesempatan “berkenalan” dengan sosok Inyiak Parabek. Mencoba melacak langsung jejak kehidupannya, menyelami nilai-nilai keshalihan yang masih terekam jelas dalam benak para murid-muridnya, hingga merasakan langsung kehidupan di Sumatera Thawalib Parabek, sebagai warisan beliau, sungguh mencerahkan. Hasilnya, saya coba untuk berbagi dalam buku biografi ini. Sekaligus menjadi buku pertama saya. Lega rasanya. “Telur yang keras” itu pecah juga akhirnya. Betapa telah sejak lama, saya ingin menulis sebuah buku, berkali-kali saya inginkan dan ungkapkan. Baru kali ini bisa terwujud. Alhamdulillah…Hanya Allah Ta’ala yang memberi kesempatan dan kemudahan.

Selama berinteraksi dengan para narasumber dan mengamati langsung berbagai hal yang terkait dengan Inyiak Parabek, saya menangkap semangat luar biasa dari para pengelola Yayasan Syekh Ibrahim Musa, para pimpinan sekolah dan dewan guru, hingga siswa dan masyarakat sekitar untuk tetap memelihara warisan, bahkan membangkitkan kembali nilai-nilai inspiratif yang pernah diajarkan Inyiak Parabek. Istilah mereka dalam pepatah Minang : Mambangkik batang tarandam. Sebuah upaya untuk menghidupkan nilai-nilai luhur dan keutamaan yang semakin lama semakin terkikis. Termasuk upaya untuk bangkit kembali karena sedikit terlena oleh nama besar dan kejayaan di masa lalu. Manusia bisa berganti, Zaman terus berubah. Tapi semangat dan inspirasi akan terus lestari. Saya sampai pada kesimpulan bahwa Inyiak Parabek adalah ulama yang membangkitkan para murid dan masyarakatnya dari kegelapan ketidaktahuan menuju cahaya ilmu, dari ketergantungan menuju kemandirian.

Buku ini berisi jejak kehidupan Inyiak Parabek, inspirasi Inyiak Parabek dalam pendidikan, hingga gambaran komprehensif tentang Sumatera Thawalib Parabek. Sekolah berusia 1 abad yang telah menghadapi beragam dinamika, hingga saat ini. Saat ketika sekolah ini sedang mengobarkan semangat kebangkitan: Menjadi sekolah yang mencetak ulama intelektual. Semoga karya sederhana ini membawa manfaat..!

Membongkar Mitos tentang Ayah

”Dunia tidak akan pernah mengerti,” begitu catatan yang ditinggalkan seorang ayah di California ketika menembak dirinya sendiri. Si ayah belum sempat menghadapi tuntutan pengadilan ketika mengakhiri hidupnya secara tragis. Semua orang memang tak akan pernah mengerti, bagaimana ia membenci anak perempuannya, Genie (nama samaran), teramat sangat.
Gadis kecil 13 tahun itu, harus melupakan indahnya masa kecil, hidup dalam “penjara” yang diciptakan ayahnya sendiri. Sehari-hari Genie diikat dalam sebuah tempat duduk yang ketat, tanpa bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Malam hari ia dikurung dalam kurungan besi tanpa diberi makan. Jika menangis, si ayah akan memukulnya dengan kejam. Genie juga tidak boleh diajak berkomunikasi. Mendengar orang bercakap-cakap saja tidak boleh. Genie terbebas, ketika ibunya membawanya lari dari rumah, dan si ayah ditangkap polisi, sampai akhirnya bunuh diri. Kisah tentang Genie dan ayahnya ditulis kembali secara menarik sebagai pembuka dalam buku Psikologi Komunikasi.
Ayah Genie tentu contoh yang ekstrim tentang akibat buruk dari mitos-mitos yang melingkupi diri seorang ayah. Mitos bahwa ayah punya kekuatan dan kekuasaan yang tak boleh diganggu-gugat. Kekuasaan yang boleh dipamerkan, bahkan dengan kekerasan. Contoh-contoh lain dengan skala yang lebih ringan bersliweran di tengah kita. Ayah yang merasa benar sendiri, menang sendiri, dan sibuk sendiri, sehingga hanya meluangkan sedikit waktu untuk anak-anak adalah citra yang terbangun oleh mitos-mitos itu.
fatherJika dibuat daftar, maka mitos tentang ayah akan semakin panjang. Ayah digambarkan sebagai sosok yang kaku, hanya berkutat pada soal disiplin dan keteraturan, serta sulit dekat dengan anaknya. Kedekatan dengan anak seolah-olah menjadi monopoli ibu. Ayah tak ingin disibukkan dengan urusan anak-anak, bahkan untuk sekedar menggendong, mencium dan membelai si kecil. Ayah juga dianggap tak mampu merawat anak-anak. Coba saja, ayah dibiarkan pergi atau di tinggal berhari-hari bersama anak, tanpa sang bunda. Pasti akan kerepotan. Itu kata mitos.
Bahkan pekerjaan yang “pantas’ atau “tidak pantas” dilakukan seorang ayah, juga dipengaruhi mitos-mitos. Dalam sebuah pengajian, seorang Ustadz menjelaskan hadist tentang terlaknatnya seorang laki-laki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang menyerupai laki-laki, baik dalam berperilaku maupun berpakaian. Setelah diberi kesempatan, seorang peserta ta’lim bertanya serius. Katanya, “Apakah pengertian hadist itu termasuk pada seorang suami yang juga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan istri, seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci, atau bahkan pergi ke pasar?”. Tentu saja santri yang lain tertawa. Sang Ustadz, menjawab dengan balik bertanya bijak, “Sejak kapan pekerjaan-pekerjaan seperti itu diberi jenis kelamin “perempuan” ?. Bisa jadi, pertanyaan itu juga dipengaruhi oleh mitos, bahwa ayah tidak boleh direpotkan dengan urusan pekerjaan yang dianggap bukan “bidang”nya.
Sebenarnya Rasululloh Sallallahu ‘Alaihi Wassalam, teladan sejati, telah membongkar mitos-mitos tentang ayah itu, ribuan tahun yang lalu. Tentu kisah bagaimana Rasululloh menunjukkan kelemahlembutan, kasih sayang pada anak-anak dan juga cucu-cucu beliau sering kita dengar. Bagaimana beliau bermain kuda-kudaan dengan Hasan dan Husein, dan selalu menciumi mereka penuh kasih, membuat para sahabat terheran-heran. Salah seorang dari mereka, Aqra’ bin Habis at-Tamimi bahkan berkomentar “Aku punya sepuluh anak, tetapi tidak satupun dari mereka yang pernah kucium.” Maka lahirlah sabda Rasul yang terkenal itu : “Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi ” Man la yarham, la yurham…!
Saya jadi teringat pernah melakukan perjalanan dengan beberapa sahabat untuk berbagi cerita dalam sebuah workshop penulisan di luar kota. Salah seorang diantara mereka membawa serta 1 orang “prajurit” dan 1 “srikandi” kecil yang sedang lincah-lincahnya. Ketika itu, bunda mereka di rumah, dan baru saja mendapat anugerah adik bayi. (Kini, mereka sudah dapat 1 tambahan lagi permata hati…Semoga Allah Ta’ala selalu memberkahi keluarga bahagia ini…). Ah..betapa indahnya melihat kejadian-kejadian menggelikan sekaligus mengharukan antara ayah dan 2 anak balita itu. Bagaimana sang ayah yang sedang bertugas, harus menjadi penengah jika kakak dan adik itu bertengkar, mengejar-ngejar si kakak sambil menyuapi si kecil, hingga mereka bertiga tidur kelelahan, berpelukan di lantai beralas karpet biru itu. Begitu damai.. Tak pernah saya dengar sang ayah, membentak, menumpahkan amarah Bahkan terlihat kesal pun tidak. Hari itu mitos tentang ayah sedang dibongkar oleh sahabat saya itu. Ayah tak harus sok kuasa, sedikit-sedikit marah, atau gemar bermain kekerasan atas nama “kewibawaan” dan “ketegasan”. Ayah juga bisa lembut, penuh kasih sayang, dan sangat bisa dekat serta piawai merawat anak. Saya sangat ingin menjadi salah satu ayah macam itu. Tentu saja, bukan seperti ayah-nya Genie. Naudzubillah….! (***Subhan Afifi)